Meminta Maaf Dan Memberi Maaf

Secara tulus saya meminta maaf kepadamu atas segala perbuatanku dan segala kesalahanku selama ini. Maukah kamu memaafkan ku?
Kita perlu memahami kekuatan sebuah permintaan maaf karena meminta maaf dan memberi maaf adalah suatu sikap yang memiliki kekuatan yang dahsyat dalam kehidupan. Kita tidak boleh hanya mengatakan “saya minta maaf” kepada orang, akan tetapi kita tidak mengucapkannya secara tulus dan tidak menjalankannya. Demikian juga sebaliknya. Kita tidak boleh mengatakan “saya memaafkanmu”, akan tetapi kita tidak menerima ucapan maaf tersebut dengan tulus dari hati kita. Dan juga, mengatakan “saya belum bisa memaafkanmu” dengan segala keangkuhan dan emosi dalam diri kita.

Pahami saja, bahwa kita semua manusia tidak ada yang sempurna. Semua pasti tidak luput dari suatu kesalahan. Suatu saat pasti kita pernah membuat kacau, melakukan kesalahan, mengatakan hal yang salah dan melukai hati orang lain di sekitar kita.

Sebuah permintaan maaf yang tulus tentunya memiliki kekuatan untuk memperbaiki hal yang rusak, memulihkan hubungan, menyembuhkan luka dan memulihkan hati yang hancur, dan juga memperbaiki segala kesalahan prespektif serta perbaikan masalah hingga kita merasa bersalah kepada orang lain dalam diri kita.

Sebuah pengalaman pernah meminta maaf kepada seseorang. Susah juga sih meminta maaf kepada orang. Bukan sesuatu pekerjaan yang gampang. Karena tentunya orang tersebut pasti akan menilai segala ketulusan dan kesungguhan hati kita dalam meminta maaf. Hingga akhirnya permintaan maafku itu bisa diterimanya. Akan tetapi sangat mencengangkan, dan sangat mengejutkan hatiku. Dimaafkan akan tetapi dengan syarat.
Saya menerima permintaan maaf mu, akan tetapi Cuma 75%. Sisanya harus dipenuhkan dengan membeli sesuatu.

Dalam hati saya menggerutu ;“memafkan tapi dengan suatu syarat” apakah itu tulus? Apakah dia masih menyimpan rasa dendam? Apakah dia tidak menerima maafku?
Disini terlihat jelas bahwa ketulusan hati untuk menerima maaf dari “seseorang” itu masih tidak ada. Tidak ada niat dan kesungguhan untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Rasa tulus dan kesungguhan sangat diperlukan dalam meminta maaf dan menerima maaf dari seseorang. Pada kenyataannya kita ini hidup berdampingan dengan sesama manusia, yang notabenenya mempunyai banyak kekurangan. Mempunyai banyak perbedaan sikap, pandangan, dan emosional yang berbeda-beda pula.

Semestinya kita tidak perlu meminta maaf dan menerima maaf jika hati kita memang belum betul-betul ikhlas dan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Kita tidak perlu memaksakan hati kita, jika memang hati kita tidak sungguh-sungguh bisa melakukan itu. Toh juga semua itu hak kita juga. Minta maaf dan memaafkan itu adalah suatu keputusan dari diri kita sendiri. Karena keputusan dan kesungguhan serta keikhlasan dari diri kita sendiri merupakan hal wajib untuk melakukannya.

Apa jadinya nanti jika kita meminta maaf kepada seseorang, dan kita tidak benar-benar melakukannya? Apa jadinya nanti jika kita memaafkan kesalahan orang lain, tetapi hati kita tidak bisa menerima itu? Yang terjadi hanyalah memperbesar segala masalah, dan tentunya membuat hubungan kita dengan orang lain tetap tidak terjalin dengan baik. Yang terjadi adalah hubungan yang kaku, serta sudah barang tentu, kita akan merasa semakin bersalah kepada orang lain.

Pikirkan dulu dan tanyakan dulu hati Anda untuk meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Apakah hati anda sudah sungguh-sungguh mau melakukannya?

Kalau memang belum, saranku lebih baik jangan memaksakan kehendak anda. Jangan terlalu memikirkan segala kemungkinan yang terjadi jika tidak meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Kita bebas melakukannya, semua tergantung kepada diri dan hati kita sendiri.

Baca Juga Yang Ini:



Comments :

2 comments to “Meminta Maaf Dan Memberi Maaf”
Taktiku***** said...
on 

Intinya harus ikhlas sih..... :)

Hellen said...
on 

Setuju banget dengan Taktiku... initinya memang ikhlas...

Post a Comment